Banyak pelaku UMKM yang akhirnya skip bikin pembukuan karena ngerasa ribet, gak punya waktu, atau takut karena gak ngerti soal akuntansi. Padahal, pembukuan UMKM itu penting banget buat tahu bisnis kamu sebenarnya untung atau rugi.
Tanpa catatan yang jelas, semua cuma perkiraan.
Uang keluar-masuk gak ketahuan, dan ujung-ujungnya bingung sendiri pas butuh laporan buat ngajuin pinjaman, mengatur stok, atau bahkan bayar pajak.
Kabar baiknya, kamu gak perlu jadi lulusan akuntansi buat mulai.
Ada kok cara mencatat keuangan usaha yang simpel dan bisa langsung kamu praktekkan.
Di artikel ini, kita bakal bahas langkah-langkah pembukuan sederhana yang cocok buat UMKM.
Apa Itu Pembukuan Sederhana untuk UMKM?
Pembukuan sederhana adalah proses mencatat setiap pemasukan dan pengeluaran bisnis secara teratur.
Biasanya dilakukan secara manual atau menggunakan alat bantu sederhana seperti buku tulis atau spreadsheet.
Buat pemilik usaha kecil, ini jadi cara paling mudah untuk mengontrol arus kas tanpa harus pusing dengan istilah keuangan yang ribet.
Meski kelihatannya sepele, pembukuan manual ini penting banget buat tahu kondisi keuangan bisnis secara nyata. Berapa uang yang masuk, ke mana saja uang keluar, dan berapa sisa keuntungannya.
Bedanya Pembukuan Sederhana dan Lengkap
Pembukuan lengkap biasanya melibatkan laporan keuangan yang lebih kompleks, seperti neraca, laba rugi, hingga arus kas.
Umumnya digunakan oleh perusahaan skala menengah hingga besar yang sudah punya sistem akuntansi profesional.
Sementara itu, UMKM cukup mulai dari catatan keuangan bisnis yang sederhana dulu. Asal rutin dan rapi.
Itu sudah sangat membantu dalam mengelola keuangan dan mengambil keputusan yang tepat.
| Aspek | Pembukuan Sederhana | Pembukuan Lengkap |
| Cocok untuk | UMKM, usaha mikro, bisnis rumahan | Usaha menengah ke atas, startup, perusahaan besar |
| Isi utama | Pemasukan & pengeluaran harian | Neraca, laba rugi, arus kas, laporan perubahan modal |
| Alat yang digunakan | Buku tulis, Excel, Google Sheets, aplikasi gratis | Software akuntansi (Accurate, Jurnal, dll.) |
| Tingkat kesulitan | Mudah, bisa dilakukan tanpa latar belakang akuntansi | Lebih kompleks, butuh pemahaman akuntansi dasar |
| Tujuan utama | Kontrol arus kas & pengeluaran | Analisis mendalam & pelaporan resmi ke pihak eksternal |
| Frekuensi pencatatan | Harian/mingguan | Harian + laporan bulanan/triwulanan/tahunan |
Kenapa UMKM Wajib Punya Pembukuan?
Banyak pelaku usaha mikir kalau pembukuan itu cuma buat bisnis gede.
Padahal, justru pembukuan usaha mikro yang rapi bisa bikin hidup kamu sebagai pemilik bisnis jauh lebih gampang. Nih alasannya:
1. Biar Gak Bingung Lihat Untung-Rugi
Sering ngerasa jualan rame tapi duitnya “ngilang”? Bisa jadi karena kamu gak nyatet pemasukan dan pengeluaran secara rutin.
Dengan pembukuan sederhana, kamu bisa lihat jelas: Berapa yang masuk, berapa yang keluar, dan sisa keuntungannya berapa. Gak perlu nebak-nebak lagi.
2. Memudahkan Saat Urus Pajak atau Pinjaman
Kalau kamu suatu saat mau ngajuin pinjaman ke bank atau ikut program pemerintah, pasti diminta laporan keuangan UMKM.
Nah, kalau pembukuan kamu berantakan, ya susah dilolosin. Dengan catatan yang rapi, urusan kayak gitu jadi lebih lancar.
3. Bantu Ambil Keputusan Bisnis yang Lebih Baik
Mau naikin harga? Buka cabang? Tambah stok? Semua keputusan ini butuh data.
Kalau kamu punya catatan yang jelas, kamu bisa ngelihat pola pengeluaran dan pemasukan dengan lebih objektif.
Ini alasan utama pentingnya pembukuan buat pertumbuhan usaha.
Panduan Cara Membuat Pembukuan Sederhana
Bikin pembukuan itu gak harus ribet dan bikin pusing.
Nah, berikut ini langkah-langkah praktis cara bikin pembukuan sederhana buat UMKM yang bisa langsung kamu terapkan:
1. Pisahkan Keuangan Pribadi & Bisnis
Ini kesalahan klasik yang sering banget kejadian: nyampurin duit pribadi sama duit usaha.
Hasilnya? Bingung sendiri. Gak tahu mana uang belanja rumah, mana uang buat beli bahan baku.
Solusinya simpel: bikin rekening bank khusus buat bisnis.
2. Simpan Bukti Transaksi
Setiap transaksi keuangan harus ada buktinya. Entah itu nota, invoice, struk, atau transfer bank.
Apalagi kalau suatu saat ada pemeriksaan pajak atau komplain dari supplier.
Kamu bisa simpan bukti transaksi secara fisik (pakai map), atau difoto aja.
3. Pilih Cara Mencatat yang Nyaman
Gak harus langsung pakai software canggih.
Kalau masih awal dan transaksinya belum banyak, buku kas dari toko alat tulis juga udah cukup banget.
Mau yang digital? Pakai Excel atau Google Sheets juga bisa. Lebih fleksibel, dan bisa pakai rumus otomatis.
4. Bikin Pos-Pos Keuangan yang Jelas
Biar catatan kamu lebih rapi, mulai kelompokkan pemasukan dan pengeluaran ke dalam beberapa pos. Misalnya:
- Pemasukan: “Penjualan Produk A”, “Jasa A”, dll.
- Pengeluaran: “Biaya Bahan Baku”, “Transport”, “Kemasan”, “Gaji”, dsb.
5. Catat Secara Rutin, Jangan Nunggu Numpuk!
Jangan nunggu akhir bulan baru nyatet, bisa lupa atau malah males.
Idealnya, langsung catat tiap transaksi. Kalau gak sempat, minimal seminggu sekali duduk bentar buat rekap semua transaksi.
6. Buat Laporan Keuangan Dasar
Manfaatkan datanya buat bikin laporan bulanan. Gak perlu ribet, cukup 3 laporan ini aja:
- Laporan Arus Kas: uang masuk dan keluar, biar tahu kamu lagi surplus atau defisit.
- Laporan Laba Rugi: berapa pendapatan dikurangi biaya, jadi tahu untung atau rugi.
- Neraca Sederhana: aset, utang, dan modal usaha kamu saat ini.
Kamu akan bisa lihat kondisi bisnismu dengan lebih objektif.
Contoh Format Pembukuan Sederhana
Ada beberapa contoh format pembukuan paling sederhana yang bisa kamu coba, antara lain:
1. Buku Kas Harian (Pemasukan & Pengeluaran)
| Tanggal | Keterangan | Pemasukan (Rp) | Pengeluaran (Rp) | Saldo (Rp) |
| 01/06 | Penjualan Produk A | 300.000 | – | 300.000 |
| 02/06 | Beli Bahan Baku | – | 100.000 | 200.000 |
| 03/06 | Penjualan Produk B | 250.000 | – | 450.000 |
| 04/06 | Biaya Kemasan | – | 50.000 | 400.000 |
Keterangan:
- Kolom Pemasukan diisi saat ada uang masuk dari hasil jualan atau pendapatan lainnya.
- Kolom Pengeluaran diisi saat kamu keluarin uang buat kebutuhan usaha.
- Saldo dihitung dari sisa uang setelah dikurangi pengeluaran atau ditambah pemasukan hari itu.
2. Daftar Piutang (Kalau Ada yang Belum Bayar)
| Tanggal | Nama Pelanggan | Produk / Layanan | Jumlah (Rp) | Status Pembayaran |
| 02/06 | Toko Maju Jaya | 10 botol sambal | 150.000 | Belum Lunas |
| 05/06 | Ibu Lina | Jasa Laundry | 80.000 | Lunas |
3. Daftar Hutang Usaha
| Tanggal | Kepada Siapa | Keperluan | Jumlah (Rp) | Status Pembayaran |
| 01/06 | Supplier ABC | Bahan baku | 200.000 | Belum Dibayar |
| 06/06 | Toko Plastik | Beli kemasan | 75.000 | Sudah Dibayar |
Kesalahan Umum dalam Pembukuan UMKM
Meski udah niat nyatet keuangan, banyak pelaku UMKM yang masih jatuh ke kesalahan-kesalahan klasik.
Hal-hal kecil yang kelihatannya sepele ini justru bisa bikin pembukuan usaha jadi berantakan, dan akhirnya kamu sendiri yang pusing pas mau lihat performa bisnis.
Beberapa contoh kesalahan pembukuan usaha yang sering kejadian:
1. Lupa Catat Transaksi Kecil
“Ah, cuma beli plastik Rp10.000 doang, gak usah dicatat.”
Nah, pikiran kayak gini yang bikin laporan keuangan UMKM bermasalah. Transaksi kecil kalau dikumpulin bisa jadi pengeluaran besar.
Jadi, sekecil apa pun uang keluar atau masuk, tetap harus dicatat. Biar datanya utuh dan akurat.
2. Mencampur Uang Pribadi dan Bisnis
Ini kesalahan paling umum. Uang buat belanja rumah diambil dari kas usaha, terus malah bingung sendiri pas akhir bulan.
Kalau kamu gak pisahin sejak awal, pembukuan gak akan rapi dan susah analisisnya.
Solusinya: pisahkan rekening dan kebiasaan pakai uang.
3. Gak Rutin Merekap
Banyak yang awalnya semangat nyatet, tapi makin ke sini jadi jarang buka buku kas.
Akibatnya, transaksi numpuk, bukti hilang, dan akhirnya males rekap.
Biar pembukuan tetap terkontrol, minimal seminggu sekali luangkan waktu buat cek dan update semua catatan.
4. Mengandalkan Ingatan Saja
Ngira semua transaksi bisa diingat itu jebakan. Sekalinya ada yang lupa, kacau semua urutan pencatatan.
Mengandalkan ingatan tanpa pencatatan jelas bikin kamu rawan salah hitung, apalagi kalau bisnis mulai sibuk. Lebih baik catat langsung atau set reminder harian.
Kesimpulan
Gak perlu nunggu bisnis gede dulu buat mulai bikin pembukuan. Justru dari awal, kamu udah bisa bangun kebiasaan yang bikin usaha kamu lebih teratur dan gampang berkembang.
Mulai dari yang sederhana dulu: Catat pemasukan, pengeluaran, pisahkan rekening, dan simpan bukti transaksi.
Seiring waktu, kamu akan makin paham kondisi keuangan usahamu, dan lebih pede ngambil keputusan penting.
Tapi kalau kamu merasa tetap kewalahan atau gak punya waktu buat ngurus semua catatan itu sendiri, gak masalah.
Serahin ke NoSlip, biar kamu fokus jualan. Sementara urusan pencatatan keuangan, kami yang beresin.



