Setiap bisnis pasti melakukan pengeluaran, tapi tidak semua pengeluaran berasal dari aktivitas operasional sehari-hari. Salah satu jenis arus kas yang sering luput dari perhatian adalah financing cash outflow.
Financing cash flow adalah arus kas keluar yang terkait dengan aktivitas pendanaan.
Termasuk pembayaran utang, dividen, atau pembelian kembali saham, dan bisa sangat mempengaruhi kesehatan keuangan perusahaan jika tidak dikelola dengan baik.
Dengan pemahaman yang tepat, kamu bisa mengontrol pengeluaran kas perusahaan dan menjaga likuiditas tetap stabil.
Dalam artikel ini, kita akan bahas pengertiannya, contoh nyatanya, serta strategi untuk mengelolanya agar bisnis tetap aman.
Apa Itu Financing Cash Outflow?
Financing cash outflow adalah pengeluaran kas perusahaan yang timbul akibat aktivitas pendanaan.
Artinya, dana keluar karena transaksi yang berkaitan dengan struktur permodalan perusahaan.
Baik itu dari pinjaman, investor, maupun pemegang saham.
Contohnya:
- Pembayaran pokok pinjaman
- Pembayaran bunga pinjaman
- Pembayaran dividen
- Pembelian kembali saham (buyback)
Jenis arus kas ini tercatat dalam laporan cash flow statement dan berfungsi untuk menunjukkan seberapa besar beban dana keluar yang terkait dengan pendanaan bisnis.
Contoh Financing Cash Outflow dalam Dunia Bisnis
Berikut adalah contoh konkret yang biasa terjadi di perusahaan:
| Jenis Aktivitas | Penjelasan |
| Pembayaran Pokok Pinjaman | Cicilan pokok utang kepada bank atau lembaga keuangan |
| Pembayaran Bunga Pinjaman | Biaya atas pendanaan eksternal yang wajib dibayar secara periodik |
| Pembayaran Dividen | Pengeluaran kas untuk pembagian keuntungan kepada pemegang saham |
| Share Buyback (Pembelian Saham) | Pembelian kembali saham perusahaan yang beredar di publik |
Perbedaan Financing, Operating, dan Investing Cash Outflow
Memahami perbedaan antar jenis arus kas sangat penting agar tidak salah klasifikasi saat menyusun laporan keuangan.
| Jenis Arus Kas | Sumber Aktivitas | Contoh Pengeluaran |
| Operating Cash Outflow | Kegiatan operasional harian | Gaji karyawan, bahan baku, biaya operasional |
| Investing Cash Outflow | Investasi aset jangka panjang | Pembelian mesin, properti, atau akuisisi |
| Financing Cash Outflow | Aktivitas pendanaan | Pembayaran utang, bunga, dividen, buyback saham |
Perlu dicatat kalau jenis ini tidak berkaitan langsung dengan aktivitas operasional ataupun investasi, melainkan fokus pada bagaimana bisnis didanai.
Mengapa Financing Cash Outflow Penting?
Ada tiga alasan utama mengapa perusahaan perlu memperhatikan secara serius:
1. Mencerminkan Strategi Pendanaan
Jenis cash flow ini menunjukkan bagaimana perusahaan membiayai pertumbuhannya, ya!
Apakah lebih mengandalkan utang (debt financing) atau menyuntikkan modal sendiri (equity financing).
Jika arus kas banyak keluar untuk membayar cicilan pinjaman atau bunga, artinya perusahaan cenderung menggunakan utang sebagai sumber dana.
Sebaliknya, jika pengeluaran lebih banyak untuk pembagian dividen atau pembelian kembali saham, itu mencerminkan pendekatan berbasis ekuitas.
Ini bisa memberikan gambaran tentang seberapa agresif atau konservatif strategi keuangan perusahaan.
2. Mempengaruhi Likuiditas Bisnis
Pengeluaran dari aktivitas pendanaan bisa secara langsung mengurangi kas yang tersedia untuk kebutuhan operasional.
Misalnya, pembayaran utang jangka panjang atau bunga yang besar bisa membuat perusahaan kekurangan dana untuk membayar gaji, membeli bahan baku, atau membiayai aktivitas rutin lainnya.
Jika tidak diantisipasi, hal ini bisa menyebabkan ketidakseimbangan keuangan yang berbahaya bagi kelangsungan bisnis.
3. Menjadi Pertimbangan Investor
Investor sering melihat FCO sebagai indikator kinerja dan stabilitas keuangan perusahaan.
Misalnya, perusahaan yang rutin membagikan dividen atau melakukan buyback saham sering dianggap sehat secara finansial dan memiliki arus kas positif.
Ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang mencari return jangka panjang dan kepercayaan terhadap manajemen perusahaan.
Namun, jika melebihi cash inflow secara terus-menerus, hal ini bisa menjadi indikasi risiko keuangan yang serius.
Pengeluaran yang lebih besar daripada pemasukan, terutama dalam konteks pendanaan, bisa menguras cadangan kas dan memperbesar potensi gagal bayar.
Dalam jangka panjang, hal ini bahkan bisa mengancam keberlangsungan bisnis jika tidak ditangani dengan strategi keuangan yang tepat.
Tips Mengelola Financing Cash Outflow dengan Efektif
Berikut beberapa strategi praktis agar arus kas pendanaan tetap sehat dan terkendali:
1. Buat Jadwal Pembayaran yang Jelas
Rancang cash flow calendar untuk semua kewajiban pendanaan agar tidak mengganggu operasional harian.
2. Kontrol Rasio Utang
Gunakan analisis debt-to-equity untuk memastikan bahwa perusahaan tidak terlalu bergantung pada pinjaman.
3. Tunda Dividen Bila Perlu
Di masa kas terbatas, perusahaan dapat mengurangi, menunda, atau mengubah skema pembagian dividen.
4. Cari Sumber Dana Alternatif
Pertimbangkan pendanaan jangka pendek seperti invoice financing atau peer-to-peer lending untuk kebutuhan darurat.
Kesimpulan
Financing cash outflow adalah elemen penting dalam laporan arus kas yang menunjukkan berapa besar dana keluar akibat aktivitas pendanaan.
Dengan memahami dan mengelola jenis arus kas ini secara efektif, perusahaan bisa menjaga likuiditas, memperkuat struktur modal, dan meningkatkan kepercayaan investor.
Untuk konsultasi secara pribadi soal cash flow pembukuan perusahaanmu, bisa langsung hubungi NoSlip, ya!
FAQ
Q: Apa bedanya financing dan operating cash outflow?
A: Operating cash outflow berasal dari aktivitas operasional harian, sedangkan financing cash outflow berasal dari aktivitas pendanaan seperti utang dan dividen.
Q: Apakah bunga pinjaman masuk financing cash outflow?
A: Ya, pembayaran bunga termasuk karena merupakan biaya pendanaan.
Q: Bagaimana jika perusahaan tidak memiliki financing cash outflow?
A: Bisa jadi perusahaan tidak melakukan aktivitas pendanaan dalam periode tersebut, atau menggunakan modal internal sepenuhnya.



