Banyak pebisnis merasa tenang-tenang saja melihat operasional bisnis berjalan dan penjualan tampak stabil. Tapi, gimana dengan cash flow sehat atau tidak?
Ini kaitannya dengan perencanaan bisnismu ke depan, dan bisa mengidentifikasi kalau-kalau bisnismu berpotensi bangkrut.
Tapi, tenang! Di artikel ini, kita akan menjelaskan ciri-ciri cashflow gak sehat dan gimana cara mengidentifikasinya.
Yuk, langsung aja kita bahas di bawah!
Kenapa Banyak yang Kurang Paham Pentingnya Identifikasi Cash Flow?
Masalahnya terletak pada pemahaman yang kurang mendalam tentang bagaimana cara mengevaluasi kesehatan cash flow yang sebenarnya.
Ini dia beberapa jebakan yang sering membuat kita salah kaprah:
- Terhipnotis Omset, Lupa Pantau Kas Masuk dan Keluar
Melihat angka penjualan yang tinggi memang menyenangkan. Tapi, omset di atas kertas belum tentu sama dengan uang tunai di rekening.
Bisa jadi sebagian besar penjualan masih berupa piutang yang belum dibayar.
- Merasa Aman dengan Banyak Transaksi, Padahal Arus Kas Seret
Banyak transaksi belum tentu indikator cash flow sehat. Bisa aja transaksi ramai, tapi uang tunai yang masuk lambat.
- Kurang Bisa Bedain Keuntungan Kas dan Uang “Numpang Lewat”
Keuntungan akuntansi (net profit) bisa jadi positif, tapi belum tentu semua keuntungan itu berbentuk kas.
Ada pos-pos non-tunai seperti depresiasi yang mengurangi laba, tapi tidak mempengaruhi kas.
Sebaliknya, ada penjualan aset yang menambah kas tapi bukan bagian dari keuntungan operasional.
Apa Jadinya Kalau Kita Gak Tau Kesehatan Cash Flow?
Mengabaikan kesehatan cash flow itu akibatnya bisa fatal:
- Telat Bayar Tagihan Supplier, Reputasi Rusak
Ini bisa mengganggu hubungan baik dengan pemasok, bahkan berpotensi kehilangan supply barang yang penting untuk bisnis.
- Karyawan Resah Gaji Tertunda
Moral kerja karyawan bisa menurun drastis kalau gaji sering telat.
Ini juga bisa mempengaruhi produktivitas dan bahkan menyebabkan turnover karyawan.
- Bisnis Mandek Nggak Bisa Berkembang
Tanpa cash flow yang kuat, sulit untuk melakukan investasi baru, memperluas pemasaran, atau mengembangkan produk. Bisnis jadi jalan di tempat.
- Bangkrut Pelan-Pelan Tanpa Disadari
Ini adalah skenario terburuk. Bisnis tampak baik-baik saja, tapi kekurangan kas untuk operasional sehari-hari lama kelamaan akan menggerogoti fondasi keuangan hingga akhirnya tumbang.
Ingat kasus Nike?
Pendapatan mereka sempat meroket, tapi justru mengalami masalah cash flow karena penumpukan stok yang besar dan jatuh tempo pembayaran supplier yang berdekatan.
Beruntung, dengan strategi dan pendanaan yang tepat, mereka berhasil mengatasi krisis.
Tapi, tidak semua bisnis punya privilege yang sama.
Ciri-Ciri Cash Flow Kurang Sehat

Sebelum kita masuk ke cara mengukurnya, penting untuk mengenali sinyal-sinyal bahaya kalau cash flow bisnismu kemungkinan sedang tidak sehat:
- Sering Banget Telat Bayar Tagihan
Kalau kamu sering menunda pembayaran ke supplier atau pihak lain, ada masalah dengan likuiditas bisnismu.
- Main “Gali Lubang Tutup Lubang” Utang
Terus-menerus mencari pinjaman baru untuk membayar utang lama adalah tanda cash flow yang sangat tidak sehat.
Ini seperti lingkaran setan yang sulit dihentikan.
- Saldo Kas Selalu Tipis di Akhir Bulan
Kalau kamu selalu deg-degan menjelang akhir bulan karena takut gak cukup uang untuk operasional, ini indikasi kuat ada masalah dengan pengelolaan kas.
- Dana Cadangan “Hanya Mitos”
Bisnis yang sehat punya dana darurat untuk menghadapi kejadian tak terduga.
Kalau kamu gak punya sama sekali, bisnismu sangat rentan terhadap guncangan finansial.
- Panik Setiap Ada Pengeluaran Mendadak
Muncul biaya tak terduga dan kamu langsung kelabakan mencari dana? Ini menunjukkan cash flow yang lemah dan tidak fleksibel.
Kalau kamu mengidentifikasi satu atau lebih ciri-ciri di atas pada bisnismu, jangan tunda lagi! Saatnya untuk melakukan pemeriksaan cash flow secara menyeluruh.
Cara Mengetahui dan Mengidentifikasi Cash Flow
Nah, sekarang kita masuk ke bagian yang paling penting: bagaimana sih cara konkretnya mengevaluasi kesehatan cash flow bisnismu?
Ada beberapa metrik dan laporan keuangan yang perlu kamu perhatikan:
1. Mengintip Rasio Kas Lancar (Current Ratio)
Rasio ini adalah indikator sederhana untuk melihat apakah bisnismu memiliki aset lancar (termasuk kas dan setara kas) yang cukup.
Ini untuk menutupi kewajiban jangka pendek (utang yang jatuh tempo dalam satu tahun).
Current Ratio = Total Utang Jangka PendekTotal Kas dan Setara Kas
Contoh Kasus:
Bisnismu punya:
- Kas: Rp 800 juta
- Utang jangka pendek (utang usaha, utang bank jangka pendek): Rp 400 juta
Maka, Current Ratio = 800.000.000 : 400.000.000 = 2,0
Rasio 2,0 berarti bisnismu memiliki dua kali lipat aset lancar dibandingkan dengan kewajiban jangka pendeknya.
Ini umumnya dianggap rasio yang sehat dan menunjukkan likuiditas yang baik.
Idealnya: Current ratio yang sehat biasanya berada di antara 1,5 hingga 2,0.
- Kurang dari 1: Hati-hati! Ini bisa jadi sinyal bahwa kamu mungkin kesulitan membayar utang jangka pendekmu.
- Lebih dari 2: Terlalu tinggi juga tidak selalu baik. Bisa jadi kamu memiliki terlalu banyak kas yang menganggur dan tidak diinvestasikan secara optimal.
2. Menganalisis Arus Kas Operasi (Operating Cash Flow)
Laporan arus kas operasi menunjukkan seberapa efektif bisnismu menghasilkan kas dari kegiatan operasional sehari-hari (penjualan barang/jasa).
Ini adalah indikator penting apakah bisnis inti kamu memang menghasilkan uang tunai, bukan hanya keuntungan di atas kertas.
Secara sederhana, kamu bisa melihatnya dari:
Pendapatan Operasional – Biaya Operasional (yang melibatkan pengeluaran kas)
Atau, secara lebih formal, kamu bisa melihat bagian “Arus Kas dari Aktivitas Operasi” dalam laporan arus kas.
Contoh:
- Pendapatan dari penjualan: Rp 6 miliar
- Biaya pokok penjualan (COGS): Rp 3 miliar (semuanya tunai)
- Biaya operasional (gaji, sewa, pemasaran): Rp 1,5 miliar (semuanya tunai)
Maka, Arus Kas Operasi = Rp 6.000.000.000 – Rp 3.000.000.000 – Rp 1.500.000.000 = Rp 1,5 miliar
Nilai positif menunjukkan bahwa operasional bisnismu menghasilkan kas yang cukup untuk menutupi pengeluaran operasional dan bahkan menghasilkan surplus.
Ini adalah pertanda cash flow yang sehat dan berkelanjutan.
Nilai negatif mengindikasikan bahwa bisnis inti kamu mengeluarkan lebih banyak kas daripada yang dihasilkan.
3. Membedah Arus Kas Bebas (Free Cash Flow)
Arus kas bebas adalah sisa kas yang dihasilkan dari operasi setelah dikurangi dengan pengeluaran modal (capital expenditure atau belanja aset tetap seperti mesin, gedung, dll.).
Kas bebas ini bisa digunakan untuk ekspansi bisnis, investasi baru, membayar utang, atau dibagikan kepada pemilik saham.
Free Cash Flow = Arus Kas Operasi−Belanja Modal
Contoh:
- Arus kas operasi: Rp 1 miliar
- Belanja modal (beli mesin baru): Rp 400 juta
Maka, Free Cash Flow = Rp 1.000.000.000 – Rp 400.000.000 = Rp 600 juta
Arus kas bebas yang positif menunjukkan bahwa bisnismu memiliki fleksibilitas keuangan yang tinggi.
Semakin besar nilainya, semakin banyak opsi yang kamu miliki untuk mengembangkan bisnis atau memberikan return kepada investor, ya!
Arus kas bebas yang negatif bisa menjadi perhatian, terutama jika terjadi secara berkelanjutan.
4. Menghitung Siklus Konversi Kas
CCC mengukur berapa lama waktu yang dibutuhkan bisnismu untuk mengubah investasi dalam inventaris menjadi uang tunai dari penjualan.
Siklus yang lebih pendek umumnya lebih baik karena berarti uangmu tidak terlalu lama “terikat” dalam bentuk inventaris atau piutang.
CCC=DIO+DSO−DPO
Keterangan:
- DIO (Days Inventory Outstanding): Rata-rata berapa hari inventaris disimpan sebelum dijual. DIO=Harga Pokok Penjualan Rata-rata Persediaan×365
- DSO (Days Sales Outstanding): Rata-rata berapa hari waktu yang dibutuhkan pelanggan untuk membayar tagihan. DSO=Pendapatan Penjualan Rata-rata Piutang Usaha×365
- DPO (Days Payable Outstanding): Rata-rata berapa hari kamu membayar tagihan ke supplier. DPO=Harga Pokok Penjualan Rata-rata Utang Usaha×365
Contoh:
- DIO: 50 hari (rata-rata barang di gudang 50 hari sebelum laku)
- DSO: 35 hari (rata-rata pelanggan bayar setelah 35 hari)
- DPO: 25 hari (rata-rata kamu bayar supplier setelah 25 hari)
Maka, CCC = 50 + 35 – 25 = 60 hari
Siklus konversi kas 60 hari berarti dibutuhkan 60 hari dari saat kamu membeli bahan baku atau menyimpan barang hingga uang tunai dari penjualan masuk ke rekeningmu.
Semakin pendek CCC, semakin efisien pengelolaan modal kerjamu.
Baca Juga: 3 Langkah Akurat Menghitung Modal Akhir Bisnis
Kesimpulan
Cash flow bukan sekadar catatan uang masuk dan keluar, tapi kunci dari kesehatan finansial bisnismu.
Pengelolaan cash flow yang cerdas adalah kunci untuk memastikan bisnis tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.
Kalau kamu menemukan adanya indikasi cash flow yang kurang optimal, bisa konsultasi ke NoSlip, ya!



