Menghitung modal akhir bisnis bisa dibilang susah-susah gampang. Sebab, ada beberapa metode perhitungan yang bisa dilakukan.
Tentu tiap lini bisnis punya beberapa kasus keuangannya sendiri sehingga perhitungan modal ahirnya juga berbeda.
Meski perhitungannya sering rumit, tapi ini tetap harus dilakukan oleh setiap pengusaha.
Menghitung modal akhir bisnis punya beberapa manfaat bagi kelangsungan usaha.
Apa saja itu? Dalam artikel ini, kita akan bahas apa saja manfaat menghitung modal akhir bisnis serta bagaimana langkah-langkahnya!
Apa Manfaat Menghitung Modal Akhir untuk Bisnis?
Secara sederhana, modal akhir adalah cerminan posisi keuangan bersih bisnis kamu pada penutupan suatu periode akuntansi (misalnya akhir bulan atau akhir tahun).
Angka ini menunjukkan nilai kekayaan bersih yang dimiliki bisnis setelah memperhitungkan semua aktivitas selama periode tersebut, termasuk keuntungan atau kerugian yang dihasilkan dan penarikan dana oleh pemilik (prive).
Modal akhir periode ini kemudian akan menjadi modal awal untuk periode akuntansi berikutnya.
Menghitung modal akhir bisnis punya manfaat strategis yang signifikan bagi kelangsungan dan pertumbuhan usaha seperti:
– Mengukur Pertumbuhan Bisnismu
Modal akhir berguna untuk mengetahui apakah bisnismu berkembang atau tidak.
Kalau jumlah modal akhir lebih besar dari modal awal,, artinya bisnismu mengalami pertumbuhan yang positif.
Tapi kalau malah lebih kecil, bisa jadi tanda ada masalah yang harus kamu periksa lebih lanjut.
Dengan tahu berapa modal akhirmu, kamu bisa lihat apakah strategi bisnis yang kamu jalankan selama ini sudah berjalan dengan baik atau belum.
– Jadi Dasar untuk Ambil Keputusan
Angka modal akhir yang tepat bisa bantu kamu dalam ambil keputusan penting. Misalnya, apakah kamu punya cukup dana buat beli peralatan baru?
Apakah sekarang waktu yang pas untuk buka cabang? Atau justru kamu harus mulai hemat dan efisien?
Nah, modal akhir ini bisa jadi acuan, jadi kamu nggak asal nebak tapi punya data yang jelas.
– Bagian Penting dari Laporan Keuangan
Modal akhir juga termasuk bagian penting dalam laporan keuangan, khususnya di Laporan Perubahan Modal (atau disebut juga Laporan Perubahan Ekuitas).
Laporan ini wajib ada di dalam laporan keuangan lengkap, dan isinya menunjukkan perubahan modal pemilik selama satu periode.
Kalau perhitungan modal akhirnya salah, maka seluruh laporan keuanganmu bisa jadi tidak akurat.
3 Cara Menghitung Modal Akhir Bisnis dengan Mudah dan Tepat
Setelah mengetahui betapa pentingnya berapa modal akhir bisnis, sekarang lanjut bagaimana cara menghitungnya.
Setidaknya, ada 3 tahapan umum yang sering dipakai, antara lain:
Langkah 1: Kumpulkan Data Keuangan yang Akurat
Langkah pertama dan paling fundamental dalam menghitung modal akhir adalah memastikan kamu bekerja dengan data keuangan yang akurat dan valid.
Ibarat membangun rumah, data keuangan adalah fondasinya. Jika fondasinya rapuh atau salah ukur (datanya tidak akurat), maka seluruh bangunan (perhitungan modal akhir dan keputusan bisnis kamu) akan ikut goyah.
Prinsip “sampah masuk, sampah keluar” (garbage in, garbage out) sangat berlaku dalam akuntansi.
Perhitungan yang canggih sekalipun tidak akan menghasilkan informasi yang berguna jika didasarkan pada data yang salah dikutip dari Delegasi.
Untuk menghitung modal akhir, kamu perlu mengumpulkan tiga komponen data utama dari catatan keuangan bisnis selama periode akuntansi yang ingin dihitung:
- Modal Awal: Ini adalah nilai modal atau ekuitas bersih yang dimiliki bisnis kamu pada permulaan periode akuntansi. Angka ini merupakan titik awal perhitungan kamu dan mencerminkan posisi modal sebelum aktivitas periode berjalan dimulai. Biasanya, modal awal periode ini sama dengan modal akhir dari periode sebelumnya.
- Laba/Rugi Bersih: Komponen ini menunjukkan kinerja profitabilitas bisnis kamu selama periode akuntansi tersebut. Laba bersih diperoleh jika total pendapatan kamu lebih besar dari total beban (biaya) yang dikeluarkan. Sebaliknya, jika total beban lebih besar dari total pendapatan, maka bisnis kamu mengalami rugi bersih. Angka ini krusial karena secara langsung menambah (jika laba) atau mengurangi (jika rugi) modal Anda.
- Prive (Penarikan Pribadi): Ini merujuk pada total aset atau kas perusahaan yang diambil oleh pemilik untuk keperluan pribadi selama periode akuntansi. Prive bukanlah biaya operasional bisnis, melainkan penarikan modal oleh pemilik. Oleh karena itu, nilai prive akan mengurangi jumlah modal akhir bisnis kamu.
Berikut adalah ringkasan definisi ketiga komponen tersebut:
| Komponen | Definisi | Pengaruh terhadap Modal |
|---|---|---|
| Modal Awal | Nilai modal bersih bisnis pada awal periode akuntansi. | Titik awal perhitungan. |
| Laba/Rugi Bersih | Selisih antara total pendapatan dan total beban selama satu periode. Laba jika pendapatan > beban, Rugi jika pendapatan < beban. | Menambah modal (jika Laba), Mengurangi modal (jika Rugi). |
| Prive | Total pengambilan aset atau kas perusahaan oleh pemilik untuk kepentingan pribadi. | Mengurangi modal. |
Dari mana kamu bisa mendapatkan data-data ini? Sumber utamanya adalah laporan dan catatan keuangan bisnismu:
- Modal Awal: Dapat dilihat pada Laporan Neraca (Balance Sheet) awal periode atau Laporan Perubahan Modal periode sebelumnya (sebagai modal akhir periode lalu).
- Laba/Rugi Bersih: Angka ini tertera jelas di bagian bawah Laporan Laba Rugi (Income Statement) periode yang bersangkutan.
- Prive: Informasi mengenai penarikan pribadi pemilik biasanya tercatat dalam Catatan Prive tersendiri, Buku Kas, atau dalam Laporan Perubahan Modal.
Untuk memastikan akurasi data yang kamu kumpulkan, terapkan kebiasaan baik dalam pencatatan keuangan. Lakukan pencatatan setiap transaksi secara rutin, detail, dan disiplin.
Selain itu, lakukan rekonsiliasi bank dan akun-akun lainnya secara berkala untuk memastikan catatan internal kamu sesuai dengan data eksternal (misalnya rekening koran bank).
Dengan data yang akurat di tangan, kamu bisa lanjut ke tahap perhitungan modal akhir bisnis.
Langkah 2: Pilih Rumus yang Sesuai (Untung atau Rugi)
Setelah berhasil mengumpulkan data keuangan yang akurat, selanjutnya adalah menerapkan rumus yang tepat untuk menghitung Modal Akhir.
Rumus yang kamu gunakan akan berbeda tergantung pada kondisi profitabilitas bisnis selama periode tersebut.
Apakah bisnismu menghasilkan keuntungan (laba) atau justru mengalami kerugian (rugi)?
Bagaimana cara menentukannya? Sangat mudah. Cukup melihat angka Laba/Rugi Bersih yang telah kamu identifikasi pada Langkah 1 (biasanya dari Laporan Laba Rugi).
- Jika total pendapatan lebih besar dari total beban (angka Laba/Rugi Bersih positif), berarti bisnis Anda Untung (Laba).
- Jika total beban lebih besar dari total pendapatan (angka Laba/Rugi Bersih negatif), berarti bisnis Anda Rugi.
Setelah mengetahui kondisi bisnis kamu, pilih salah satu dari dua rumus berikut:
1. Rumus Jika Perusahaan Untung (Menghasilkan Laba Bersih)
Ketika bisnis kamu berhasil mencetak laba bersih, keuntungan tersebut secara logis akan menambah modal yang dimiliki.
Namun, penarikan pribadi (prive) oleh pemilik tetap akan mengurangi modal. Oleh karena itu, rumusnya adalah:
Modal Akhir = Modal Awal + Laba Bersih – Prive
Dalam rumus ini, Laba Bersih ditambahkan ke Modal Awal karena meningkatkan kekayaan bersih bisnis, sementara Prive dikurangkan karena merupakan pengambilan aset oleh pemilik.
2. Rumus Jika Perusahaan Rugi (Mengalami Rugi Bersih)
Sebaliknya, jika bisnis kamu mengalami kerugian bersih, kerugian tersebut tentu akan menggerus atau mengurangi modal awal.
Penarikan pribadi (prive) yang dilakukan pemilik juga tetap bersifat mengurangi modal. Dengan demikian, rumusnya menjadi:
Modal Akhir = Modal Awal – Rugi Bersih – Prive
Di sini, Rugi Bersih dikurangkan dari Modal Awal karena menurunkan kekayaan bersih bisnis. Prive juga dikurangkan, sama seperti pada kondisi laba, karena tetap merupakan penarikan modal.
Pentingnya Memilih Rumus yang Tepat
Salah memakai rumus akan menghasilkan angka Modal Akhir yang tidak akurat dan menyesatkan.
Misalnya, jika kamu keliru menambahkan rugi bersih ke modal awal, maka akan mendapatkan gambaran posisi keuangan yang jauh lebih baik daripada kondisi sebenarnya.
Kesalahan ini bisa berakibat fatal pada analisis kinerja dan pengambilan keputusan strategis bisnismu. Oleh karena itu, identifikasi dulu kondisi laba atau rugi dengan benar sebelum menerapkan rumusnya.
Ilustrasi Sederhana Dampak Laba vs Rugi
Untuk memberi gambaran lebih jelas, bayangkan kamu memulai periode dengan Modal Awal Rp 50.000.000 dan melakukan Prive sebesar Rp 2.000.000.
- Jika Laba Bersih Rp 10.000.000: Modal Akhir = Rp 50.000.000 + Rp 10.000.000 – Rp 2.000.000 = Rp 58.000.000. Modal Anda bertambah.
- Jika Rugi Bersih Rp 5.000.000: Modal Akhir = Rp 50.000.000 – Rp 5.000.000 – Rp 2.000.000 = Rp 43.000.000. Modal Anda berkurang.
Ilustrasi ini menunjukkan bagaimana laba meningkatkan modal akhir (meskipun ada prive), sementara rugi menurunkannya (ditambah lagi dengan pengurangan prive).
Supaya lebih mudah, berikut adalah tabel perbandingan kedua rumus tersebut:
| Kondisi Profitabilitas Bisnis | Rumus Perhitungan Modal Akhir | Logika Utama |
|---|---|---|
| Untung (Laba Bersih) | Modal Akhir = Modal Awal + Laba Bersih – Prive | Laba menambah modal, Prive mengurangi modal. |
| Rugi (Rugi Bersih) | Modal Akhir = Modal Awal – Rugi Bersih – Prive | Rugi mengurangi modal, Prive juga mengurangi modal. |
Baca Juga: 20 Aplikasi Pembukuan Keuangan Gratis 2025 yang Bisa Kamu Coba agar Finansial Lebih Teratur
Kesimpulan
Menghitung modal akhir merupakan langkah utama untuk melihat apakah bisnis tumbuh atau justru merugi.
Dari sini, pelaku usaha bisa menilai kinerja usaha, mengambil keputusan strategis, hingga menyusun laporan keuangan yang lebih akurat.
Prosesnya sebenarnya sederhana, asalkan data keuangan lengkap dan jelas.
Dengan tahu posisi modal di akhir periode, pelaku usaha punya gambaran nyata soal kondisi bisnis dan bisa lebih siap menyusun langkah ke depan.



