Laporan keuangan adalah jantung pengambilan keputusan. Namun kenyataannya, tidak semua laporan keuangan benar-benar mencerminkan kondisi usaha yang sebenarnya.
Ada bisnis yang mencatat laba besar, tapi arus kas justru minus. Ada juga laporan yang terlihat rapi, padahal banyak transaksi tidak tercatat dengan baik.
Kalau dibiarkan, laporan keuangan yang “bohongan” bisa menyesatkan pengambilan keputusan, membahayakan kesehatan bisnis, bahkan berpotensi menimbulkan masalah hukum.
Karena itu, pemilik usaha wajib tahu cara sederhana namun efektif untuk mengecek keakuratan laporan keuangan.
Laporan Keuangan Tidak Akurat Mengancam Bisnismu
Laporan keuangan yang tidak akurat bisa menjadi bom waktu bagi bisnis. Banyak pelaku usaha sering merasa “ada yang janggal” ketika melihat angka laporan, tetapi tidak tahu dimana letak masalahnya.
Ketidaktepatan ini biasanya muncul dalam bentuk ketidaksinkronan data antar laporan.
Misalnya, laporan laba rugi menunjukkan keuntungan besar, tetapi ketika pemilik mengecek rekening, uang kas justru seret.
Ini menandakan ada pendapatan yang dicatat tetapi belum benar-benar diterima, atau ada pengeluaran yang tidak masuk ke pencatatan.
Di sisi lain, biaya operasional sering tidak tercatat lengkap, seperti listrik, gaji, pembelian bahan, biaya langganan aplikasi, atau ongkos kirim.
Ketika biaya tidak masuk dalam laporan, laba terlihat lebih tinggi dari kenyataan, sehingga pemilik merasa bisnis “baik-baik saja”, padahal arus kas sebenarnya terganggu.
Masalah lain yang sering terjadi adalah transaksi besar tanpa bukti dokumentasi seperti invoice, nota, atau kwitansi.
Tanpa dokumen pendukung, angka yang masuk ke sistem tidak dapat diverifikasi. Ini membuka celah untuk kesalahan pencatatan, kebocoran, atau bahkan fraud.
Jika kondisi-kondisi ini dibiarkan, pemilik bisnis akan membaca laporan secara keliru.
Dampaknya sangat serius:
- Mengambil keputusan ekspansi sebelum bisnis siap, karena terlihat seolah-olah bisnis sedang untung besar.
- Pengeluaran menjadi tidak terkontrol, karena tidak ada angka biaya yang jelas.
- Cashflow berantakan, sebab laporan laba tidak menunjukkan kondisi kas yang real.
Pemeriksaan Dasar Laporan Keuangan
Kabar baiknya, pemilik bisnis tidak perlu menjadi akuntan untuk mengecek laporan keuangan.
Ada tiga langkah mudah namun sangat penting untuk memastikan angka-angka yang muncul memang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
1. Bandingkan Laporan Utama untuk Mendeteksi Inkonsistensi
Langkah pertama adalah membandingkan tiga laporan utama:
- Laporan Laba Rugi
- Arus Kas (Cash Flow)
- Neraca (Balance Sheet)
Beberapa tanda bahaya yang harus diwaspadai:
a. Laba Besar, Arus Kas Minus
Jika laporan menunjukkan keuntungan tinggi tapi arus kas operasional negatif, itu bisa menjadi sinyal laporan tidak akurat atau ada transaksi yang tidak tercatat.
Biasanya terjadi karena penjualan dicatat, tapi uangnya belum benar-benar masuk.
b. Angka Tidak Logis dari Bulan ke Bulan
Perhatikan pola laporan. Jika tiba-tiba ada lonjakan laba, penurunan biaya, atau kenaikan aset tanpa penjelasan yang jelas, Anda harus curiga.
Lonjakan tanpa catatan pendukung sering menunjukkan kesalahan pencatatan atau bahkan manipulasi laporan.
2. Verifikasi Transaksi & Bukti Pencatatan
Ini tahap yang sering diabaikan padahal sangat krusial.
a. Pastikan Semua Transaksi Punya Bukti
Setiap pemasukan dan pengeluaran harus memiliki:
- Invoice
- Kwitansi
- Nota pembelian
- Dokumen pendukung lain
Jika ada transaksi besar tanpa bukti, angka laporan wajib dipertanyakan.
b. Cek Kelengkapan Biaya Operasional
Sering terjadi: Biaya operasional tidak dicatat lengkap sehingga laporan terlihat lebih “cantik” dari kenyataan.
Pastikan biaya seperti listrik, sewa, gaji, dan pembelian rutin tercatat konsisten setiap bulan.
c. Terapkan Kontrol Internal Sederhana
Khususnya untuk UMKM:
- Pisahkan rekening pribadi dan rekening usaha
- Gunakan satu pintu pencatatan
- Batasi akses ke kas kecil atau pembayaran
Langkah sederhana ini bisa mencegah banyak kesalahan pencatatan.
3. Validasi Kebijakan Akuntansi yang Digunakan
Tidak semua laporan keuangan salah karena kelalaian. Kadang justru karena metode pencatatan yang kurang tepat.
a. Periksa Metode Akuntansi yang Digunakan
Tanyakan:
- Apakah laporan menggunakan metode akrual atau kas?
- Apakah metode ini konsisten dari bulan ke bulan?
Perubahan metode pencatatan tanpa penjelasan bisa membuat laporan terlihat berbeda dari realitas.
b. Perhatikan Perubahan Kebijakan atau Estimasi
Jika tiba-tiba ada perubahan dalam:
- Metode penyusutan
- Estimasi umur aset
- Pengakuan pendapatan
Pastikan ada penjelasan lengkap dalam catatan laporan keuangan.
c. Cek Catatan Tambahan (Notes to Financial Statements)
Laporan yang baik selalu mencantumkan catatan transaksi besar, transaksi unik, atau kejadian yang memengaruhi angka laporan.
Jika tidak ada, ini bisa jadi tanda laporan kurang transparan.
Kesimpulan
Anda bisa mengurangi risiko laporan palsu atau tidak akurat, sekaligus meningkatkan kontrol atas kesehatan finansial bisnis.
Jangan lupa pengecekan rutin membuat bisnis lebih stabil, lebih aman, dan lebih mudah berkembang.
Kalau perlu, Anda bisa bekerja sama dengan konsultan keuangan atau akuntan profesional untuk memastikan semua laporan sesuai standar.



