Banyak pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM) yang mengalami hal sama: Sudah kerja keras, produk dikirim tepat waktu, tapi pembayaran dari pelanggan tak kunjung datang.
Awalnya mungkin kamu berpikir, “Ah, nanti juga dibayar.”
Tapi begitu berbulan-bulan berlalu dan uang tak juga masuk, barulah terasa efeknya.
Modal tersendat, cash flow tersendat, dan laporan keuangan pun tampak seolah masih “aman”, padahal tidak.
Inilah yang disebut piutang macet atau piutang tak tertagih.
Masalah klasik yang bisa membuat bisnis seret kalau tidak segera diselesaikan dengan benar.
Namun kabar baiknya, secara akuntansi dan perpajakan, piutang macet ini bisa dihapus secara resmi dan legal.
Mari kita bahas lebih dalam cara menanganinya, serta dampaknya terhadap pembukuan dan pajak bisnismu.
Piutang Tak Tertagih Bisa Bikin Laporan Keuangan Terlihat “Palsu”
Dalam sistem akuntansi, piutang usaha (accounts receivable) termasuk dalam aset lancar, artinya dianggap sebagai uang yang akan diterima oleh perusahaan di masa depan.
Selama belum dibayar, jumlah piutang ini tetap tercatat sebagai bagian dari total aset perusahaan.
Masalah muncul ketika sebagian piutang itu tidak pernah tertagih. Misalnya karena pelanggan kabur, bangkrut, atau sengaja menghindar.
Namun, angka tersebut tetap muncul di laporan keuangan seolah-olah masih bisa ditagih.
Akibatnya, laporan keuangan menampilkan kondisi yang tidak sesuai realitas keuangan bisnis.
Kas di rekening mungkin sudah seret, tapi di laporan terlihat seolah bisnis masih “aman” karena jumlah asetnya besar.
Inilah yang sering disebut sebagai laporan keuangan semu.
Bukan palsu karena dimanipulasi, tapi karena tidak mencerminkan keadaan sebenarnya.
Apa Itu Penghapusan Piutang?
Dalam dunia akuntansi, penghapusan piutang atau account receivable write-off adalah proses untuk mengeluarkan nilai piutang yang sudah tidak bisa ditagih dari pembukuan perusahaan.
Artinya, perusahaan secara resmi mengakui bahwa ada sebagian tagihan dari pelanggan yang tidak akan pernah diterima, dan karenanya tidak lagi dianggap sebagai aset.
Langkah ini bukan berarti kamu menyerah terhadap uang yang belum dibayar, melainkan tanda bahwa kamu ingin menjaga transparansi dan akurasi laporan keuangan.
Dengan melakukan penghapusan piutang, kamu memastikan angka-angka di laporan keuangan benar-benar mencerminkan kondisi kas yang nyata.
Bukan sekadar harapan bahwa pelanggan akan segera melunasi utangnya.
Langkah-Langkah Melakukan Penghapusan Piutang
Proses penghapusan piutang sebenarnya tidak rumit, tapi harus dilakukan secara tertib dan sistematis supaya hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.
Baik secara pembukuan maupun pajak.
Tujuannya bukan sekadar “menghapus angka”, melainkan memastikan laporan keuanganmu mencerminkan kondisi bisnis yang nyata.
Berikut tahapan yang bisa kamu ikuti:
1. Catat Semua Piutang yang Belum Dibayar
Langkah pertama, pastikan kamu punya daftar lengkap semua pelanggan yang masih punya kewajiban pembayaran. Biasanya dicatat dalam akun piutang usaha.
Cek invoice, nota penjualan, atau kontrak kerja sama.
Tuliskan secara rinci: Nama pelanggan, tanggal transaksi, nominal, dan jatuh tempo.
Dari sini, kamu bisa melihat dengan jelas mana piutang yang masih baru dan mana yang sudah lama tertunda.
2. Evaluasi: Mana yang Masih Mungkin Ditagih
Setelah semua piutang terdaftar, lakukan evaluasi. Tanyakan pada dirimu atau tim keuangan:
“Masih realistis nggak pelanggan ini akan bayar?”
Jika pelanggan masih aktif berkomunikasi, masih menjalankan usahanya, dan belum melewati batas waktu terlalu lama.
Piutang itu masih bisa masuk kategori tertunggak sementara.
Tapi kalau pelanggan sudah tidak bisa dihubungi, usaha tutup, atau janji bayar terus ditunda tanpa kejelasan, maka piutang tersebut bisa dikategorikan sebagai piutang tak tertagih.
3. Lakukan Penghapusan dari Pembukuan (Write-Off)
Setelah yakin bahwa tagihan itu benar-benar tidak bisa ditagih lagi, buat jurnal penghapusan piutang di laporan keuanganmu.
Langkah ini berarti kamu secara resmi mengeluarkan piutang tersebut dari daftar aset,
dan mengakuinya sebagai beban (kerugian) di laporan laba rugi.
Dengan begitu, total asetmu memang akan berkurang, tapi data keuangan jadi lebih jujur dan bersih.
4. Perbarui Laporan Keuangan
Setelah penghapusan dilakukan, pastikan semua laporan terkait ikut diperbarui:
– Neraca (agar nilai piutang dan aset lancar berkurang),
– Laporan laba rugi (agar beban piutang muncul),
– Dan jika perlu, laporan arus kas (untuk mencatat bahwa uang itu tidak lagi diharapkan masuk).
Langkah ini penting supaya semua pihak termasuk mitra bisnis, akuntan, dan konsultan pajak bisa melihat kondisi keuangan yang akurat.
Dampak Positif untuk Bisnis
Setelah penghapusan piutang, laporan keuangan jadi lebih jujur dan bisa diandalkan.
Kamu jadi tahu mana pelanggan yang bisa dipercaya, dan mana yang perlu diberi aturan lebih ketat di masa depan.
Langkah ini juga membantu kamu dalam pengambilan keputusan strategis, seperti menentukan batas kredit, mengatur termin pembayaran, atau menyesuaikan kebijakan DP untuk proyek baru.
Piutang Tak Tertagih Bisa Kurangi Pajak
Piutang macet juga punya efek langsung terhadap perhitungan pajak.
Menurut peraturan perpajakan di Indonesia, piutang yang benar-benar tidak tertagih dapat dihapuskan dan diakui sebagai biaya (beban usaha).
Artinya, nilai piutang yang dihapus bisa mengurangi penghasilan kena pajak, sehingga jumlah pajak yang harus dibayar pun menjadi lebih kecil.
Tapi tentu saja, kamu perlu bukti pendukung bahwa piutang itu benar-benar tak tertagih, seperti:
– Bukti penagihan yang sudah dilakukan berulang kali,
– Email atau surat menyurat dengan pelanggan,
– Bukti hukum (misalnya pelanggan pailit, meninggal, atau tak bisa dihubungi).
Kalau bukti lengkap, maka penghapusan piutang bisa diakui oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) sebagai pengurang pajak yang sah.
Kalau tidak ada pembukuan atau dokumen yang mendukung, ya siap-siap ditolak saat pemeriksaan pajak.
Pentingnya Pembukuan Rapi
Masalah piutang macet sering kali muncul karena pembukuan yang tidak rapi.
Tanpa pencatatan jelas, kamu nggak akan tahu siapa yang sudah bayar, siapa yang belum, dan mana yang bisa ditagih ulang.
Dengan sistem pembukuan yang baik:
– Setiap piutang bisa dipantau tanggal dan nominalnya.
– Kamu punya data kuat untuk menagih atau menghapus piutang secara sah.
– Dan kalau nanti perlu bukti untuk DJP, semua dokumennya siap.
Kalau kamu belum punya sistem pembukuan teratur, inilah saat yang tepat untuk mulai.
Entah pakai aplikasi, spreadsheet, atau jasa profesional.
Kesimpulan
Piutang macet memang bikin kepala pening. Tapi membiarkannya justru bikin bisnis makin seret.
Melakukan penghapusan piutang secara akuntabel bukan tanda menyerah, melainkan langkah cerdas agar laporan keuangan dan kewajiban pajak tetap seimbang.
Dengan begitu, kamu bisa menjaga cash flow tetap realistis dan bahkan menghemat pajak secara sah dan legal.



